Minggu, 29 Mei 2011

Pemeriksaan kebidanan (status obstetricus) inspeksi

Pemeriksaan Kebidanan (status obstetricus) dibagi dalam inspeksi, palpasi dan auskultasi
Inspeksi
Yang perlu kita lihat:
- Muka
Adakah cloasma gravidarum, keadaan selaput mata pucat atau merah, adakah odema pada muka, bagaimana keadaan lidah dan gigi
- Leher
Apakah ada pembendungan vena di leher (misalnya pada penyakit jantung), apakah kelenjar gondok membesar atau kelenjar limfa membesar
- Dada
Bentuk buah dada, pigmentasi putting susu dan gelanggang susu, keadaan putting susu, adakah colostrum
- Perut
Perut membesar ke depan atau kesamping (pada ascites misalnya membesar kesamping), keadaan pusat, pigmentasi di linea laba, nampakkah gerakan anak atau kontraksi rahim, adakah striae gravidarum atau bekas luka
- Vulva
Keadaan perineum, carilah varices, tanda Chadwick, condyloma, fluor albu
- Anggota Bawah
Cari Varises, oedema, luka, cicatrik pada lipat paha.
(Obstetri fisiologi, Unpad)

Kamis, 07 April 2011

Weber , Rinne dan Schwabach test

PEMERIKSAAN PENDENGARAN
Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan :
1. Garputala
2. Uji berbisik
3. Audiometrik
Garputala terdiri dari satu set, lima buah, dengan frekuensi 128 Hz, 256 hz, 512 Hz, 1024 Hz dan 2048 Hz. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz, dan diperiksa di ruang periksa, tidak perlu di ruang kedap suara, asalkan tidak terlalu riuh. Ada 3 macam pemeriksaan:
a. Uji Rinne
Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang.
Caranya ialah garputala digetarkan, lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu, maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga, kira-kira 2,5 cm jaraknya dari liang telinga. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. Pada pasien yang pendengarannya masih baik, maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi, ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi, disebut uji rinne positif
b. Uji Weber
Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri.
Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun, dahi, atau pertengahan gigi seri. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan.
c. Uji Schwabach
Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal.
Caranya ialah, garputala digetarkan , lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi, maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi, maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek.
Uji berbisik
Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang, dengan panjang 6 meter. Pemeriksa duduk ke samping, telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu, sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata, diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Dimulai sejak jarak 6 meter, makin lama pemeriksa makin mendekat, sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6
Uji Audiometrik
Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. Pasien diberi tahu, supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol, dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan.
Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz, kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel, sampai pasien mendengar bunyi. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz, 1000 Hz, 1500 Hz, sampai 8000 Hz. Pada telinga kanan, kemudian telinga kiri. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC.
Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal, tuli hantar (konduktif), tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan, sedang atau berat.

Jumat, 25 Maret 2011

Prosedur Pemberian obat salep mata

Prosedur Pemberian Obat Salep Mata
Obat ini biasanya dikemas dalam bentuk tube. Sifat substansi lebih stabil disbanding larutan. Penyerapan lebih lambat sehingga digunakan sebagai pengganti tetes mata jika dibutuhkan kerja yang lama.
Kerugian penggunaan obat salep
 Mengganggu penglihatan karena menimbulkan sensasi bayangan pada mata
 Mengganggu penyembuhan kornea karena dapat menghambat pelepasan epitel kornea
 Dapat menyebabkan dermatitis kontak
Prosedur
1. Cuci tangan
R/ Menghilangkan mikroorganisme permukaan
2. Pakai sarung tangan jika terdapat secret
R/ Melindungi dari pemajanan terhadap sekresi
3. Bersihkan mata dengan kapas lebih dulu bila ada secret
4. Jelaskan prosedur kepada klien
R/ Mengurangi kecemasan klien
5. Cek nama obat, dosis dan tanggal kadaluarsa obat
R/ Menjamin ketepatan medikasi (obat yang dapat mengalami perubahan struktur kimia)
6. Anjurkan klien tengadah dan melihat keatas
R/ Memposisikan kepala untuk jalan termudah pada struktur mata
7. Tarik kelopak bawah ke bawah melalui tulang pipi atau pegang kulit palpebra bawah dengan ibu jari dan jari telunjuk serta tarik ke depan
R/ Membentuk kantong tempat meneteskan obat mata
8. Masukkan obat dari area bersih ke area kotor. Pegang tube salep dekat mata tetapi jangan menyentuh mata atau bulu mata
R/ Mencegah sentuhan pada mata atau bulu mata, yang akan menyebabkan cedera ocular dan mencegah kontaminasi salep
9. Tekan sejumlah kecil salep secara horizontal ke dalam forniks inferior dari kantus media ke lateral
R/ Memasukkan obat dari area bersih ke area kotor
10. Lepaskan kelopak mata bawah secara perlahan
R/ Mencegah salep keluar dari sakus konjungtiva
11. Instruksikan klien untuk menutup mata secara perlahan, jangan menekannya
R/ Meratakan obat
12. Usap kelebihan salep mata dengan kasa
13. Beritahu klien bahwa pandangan dapat menjadi kabur karena salep
R/ Menghilangkan kecemasan klien dan mencegah cedera

Anel tes

Uji Anel
Dengan melakukan uji anel, dapat diketahui apakah fungsi dari bagian eksresi baik atau tidak. Uji anel negative merupakan kontraindikasi mutlak untuk tindakan operasi intraokuler karena kuman dapat masuk kedalam mata
Cara melakukan uji anel
1. Lebarkan pungtum lakrimal dengan dilator pungtum
2. Isi spuit dengan larutan garam fisiologis. Gunakan jarum lurus atau bengkok tetapi tidak tajam
3. Masukkan jarum ke dalam pungtum lakrimal dan suntikkan cairan melalui pungtum lakrimal ke dalam saluran eksresi , ke rongga hidung
4. Uji anel positif jika terasa asin di tenggorok atau ada cairan yang masuk hidung. Uji anel negatif jika tidak terasa asin. Hal ini berarti ada kelainan di dalam saluran eksresi. Jika cairan keluar dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di duktus nasolakrimalis. Jika cairan keluar lagi melalui pungtum lakrimal inferior berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kananlikuli lakrimal inferior, maka coba lakukan uji anel pungtum lakrimal superior.

Senin, 17 Januari 2011

Perdarahan sub arachnoid

PERDARAHAN SUBARACHNOID
BATASAN
Adalah keadaan yang akut dimana terjadi perdarahan ke dalam ruangan subarachnoid
PATOFISIOLOGI
Perdarahan ini dapat terjadi akibat pecahnya aneurisma, kelainan pembekuan darah, tumor otak dan beberapa sebab lain
GEJALA KLINIK
1. Nyeri kepala akut dapat sisertai mual dan muntah, kadang-kadang dapat disusul dengan gangguan kesadaran dan kejang-kejang (26%)
2. Ditandai dengan rangsangan selaput otak dan adanya perdarahan pada mata (subhyloid bleeding) : 10%
Pada umumnya tidak dijumpai adanya tanda fokal
3. Bila dilakukan punksi lumbal selalu didapatkan cairan otak yang berdarah
CARA PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSTIK
1. Anamnesa mulainya akut, nyeri kepala, mual, muntah dapat disusul gangguan kesadaran dan kejang.
2. Pemeriksaan neurologic
Kelumpuhan anggota gerak dan saraf otak
3. Pemeriksaan tambahan
- Funduskopi: cari subhyaloid bleeding
- CT Scan
- LP : dilakukan bilamana CT scan tidak dapat dikerjakan dan keadaan klinik sangat mencurigai suatu perdarahan subarachnoid (hubungi supervisor)
- Angiografi sebagai persiapan operasi
TERAPI
1. Medis
- Perawatan umum : 5 B
- Perawatan khusus : tergantung etiologi
Perlu diingat bahwa:
- Pemberian tranexamic acid
- Bila diberikan, dosis 6 x 1 g iv selama 10 – 14 hari
- Awas! Pemberian tranexaminc acid dapat menyebabkan:
 Deep vein thrombosis
 Hidrosefalus
 Infark
 Memperbesar kemungkinan timbulnya vasopasme
- Pemberian Ca channel blocker
Nimodipine parenteral untuk mengurangi vasopasme
- Pemberian Dilantin
Bila kejang diberikan parenteral, dosis 10 – 15 mg/kgBB selanjutnya diberikan sekali sehari dengan dosis yang sama. Pemberian pelan-pelan 1 cc/menit
Perlu evaluasi kadar dilantin dalam plasma
- Bila penderita gelisah dapat diberikan:
 Largactil dosis rendah per oral
 Valium dosis rendah
- Untuk nyeri kepala diberikan analgetika bukan aspirin

Rabu, 01 Desember 2010

Perdarahan intra serebral (PIS)

PERDARAHAN INTRA SEREBRAL
(Intracerebral hemorrhage)
BATASAN
Disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler.
PATOFISIOLOGI
Perdarahan yang disebabkan oleh karena pecahnya arteri, pembuluh kapiler atau vena didalam parenkim otak, oleh karena lemahnya pembuluh akibat hipertensi, arteriosklerosis, infiltrasi tumor, diskrasia darah.
GEJALA KLINIS
Tergantung dari bagian otak yang terkena, yang ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut:
- Tidak ada TIA
- Gejala awa biasanya pada waktu melakukan kegiatan
- Sakit kepala kadang-kadang hebat
- Perubahan yang cepat dari deficit neurologi termasuk penurunan tingkat kesadaran sampai koma.
- Biasanya terdapat hipertensi dapat sedang atau berat
- Liquor serebrospinalis berdarah (80 – 90%)
- CT Scan Nampak jelas area perdarahan (area hiperdense)
CARA PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan:
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan neurologi sesuai gejala klinis
3. Pemeriksaan tambahan
- CT scan: daerah hiperdense Nampak pada hari I
- Pungsi lumbal: sebaiknya tidak dilakukan bila ada dugaan perdarahan intra serebral
TERAPI
1. MEDIS
Hari pertama atau waktu penderita datang
 PENDERITA DALAM KEADAAN KOMA
Sedapat mungkin di ICU
- Hiperventilasi
Dengan intubasi untuk membuat pCO2 28 – 34 mmHg
- Difenilhidantoin (Dilantin)
Diberikan parenteral dengan dosis pertama 10 -15 mg/kgBB, selanjutnya diberikan sekali sehari dengan dosis yang sama. Pemberian pelan-pelan 1 cc/menit (perlu dievaluasi kadar dilantin dalam plasma)
- Tekanan darah
Bila tekanan sistolik diatas 200mmHg, diturunkan 10 – 20% dari tensi awal dengan pemberian:
Lasix (hati2 dengan hemokonsentrasi
Nitropusid
 PENDERITA DENGAN KESADARAN BAIK
- Infus tidak boleh terlalu banyak, diberikan 1 liter/hari kecuali bila panas > 1,5 liter / hari
Cairan yang diberikan:
Ringer laktat
Albumin 20% bila ada hipoalbumin dan dapat untuk mengurangi edema.
- Manitol 0,25 gr/kgBB/kali 6 kali sehari, sampai 7 hari sesudah itu tapering off:
4 x sehari  2 hari
3 x sehari  2 hari
2 x sehari  2 hari
HENTIKAN
- Dilantin: bila kejang diberikan parenteral dengan dosis 10 – 15 mg/kgBB, selanjutnya diberikan sekali sehari dengan dosis yang sama. Pemberian pelan-pelan 1 cc/ menit 9perlu evaluasi kadar dilatin dalam plasma)
- Tekanan darah
Diturunkan dengan nifedipin 2 x 5 mg/hari, penurunan tidak boleh dibawah 165 mmHg. (10 – 20% dari tensi semula)
- Nimodipin diberikan bila:
Kesadaran baik, GCS ± 10
Tidakada kontraindikasi, seperti dekompresi kordis
Tak ada edema otak
Tidak diberikan jika perdarahan besar (volume darah lebih dari 60 cm³ pada CT Scan
II. PEMBEDAHAN
Tergantung dari kesadaran, lokalisasi dan besarnya hematom serta tidak adanya penyakit lain yang memperberat keadaan
- Kesadaran
Bila kesadaran menurun dan keadaan sudah dapat distabilkan antaralain dengan manitol serta keadaan tidak bertambah menurun, dapat dilakukan operasi.
- Lokalisasi hematom
Bila hematom letaknya tidak dalam (kapsula interna, serebelum) dapat dilakukan operasi. Lobar hematom tanpa disertai dengan kenaikan tekanan intracranial tidak dilakukan operasi. Pada hematom serebelar operasi dikerjakan dan memberikan hasil baik seblum batang otak mengalami kompresi.
- Besar hematom
Bila volume darah > 60 cc
PERLU DIINGAT
Pada kasus-kasus perdarahan intra serebral, waspada adanya bahaya DIC  bila terjadi kasus hubungi supervisor.

(Dikutip dari buku neurologi RSU Dr. Soetomo)

Senin, 08 November 2010

Mengkudu ekspektoran yang manjur

Ada khasiat baru dari buah mengkudu (morinda citrifolia) yaitu untuk mengobati batuk berdahak (ekspektorant), kalau kalian semua batuk berdahak tidak sembuh-sembuh dan dahak sulit keluar ada cara mudah dan murah serta alami yang bisa digunakan... Bagaimana itu, silahkan menyimak tulisan ini.

Caranya:
1) Ambil buah mengkudu yang sudah matang, cuci bersih, kemudian kupas kulitnya.
2) Mengkudu yang sudah dikupas diremas-remas dengan tangan (sebelumnya cuci tangan dulu), tambahkan sedikit air matang.
3) Peras remasan buah mengkudu dan saring dengan saringan
4) Air perasan buah mengkudu dimasukkan ke gelas kemudian diberi sedikit madu tawon
5) Minum sebanyak 2- 3 kali / hari
Insya4JJI setelah 3 hari sembuh batuknya dan dahaknya keluar semua. Selamat mencoba.
(Ayin,Juli 2010)